Sunday, November 2, 2008

NARCIKUS SEJATI


By. Meysha Lestari

Aku tidak pernah tahu bagaimana sebuah cinta tercipta. Dari mata turun ke hati, atau dari hati naik ke mata? Semakin dipikir semakin amburadul. Philosofi cinta itu sangat kompleks dan semrawut. Ada pepatah yang mengatakan cinta adalah mencicipi dan meminta. Memang permen! Ada pula yang mengatakan cinta adalah kepercayaan, cinta adalah kasih yang dalam, cinta adalah pengorbanan dan cinta adalah…..

Bagiku cinta adalah penderitaan, keputus asaan dan kebencian. Dan karena itu aku tidak pernah ingin mengenal ataupun bersangkut paut dengan yang namanya cinta. Meskipun cinta kini banyak dijual murah apalagi dikota besar seperti Jakarta, namun jangankan harus membeli..dikasih gratispun aku tak akan menerima. Pokoknya aku dah kapok dengan segala tetek bengek yang bertemakan cinta. Aku bahkan telah berhenti menbaca, mendengar dan menonton segala kegiatan yang ada kaitannya dengan cinta. Karena aku tau pasti akhirnya kalau tidak kecewa pasti ada yang sakit hati. Sementara si heroine dan hero akan tetawa-tawa dimabuk cinta. Sunguh tidak adil!

Tapi mungkin juga aku yang tidak adil. Membenci kebahagian orang lain karena diri sendiri tidak bahagia. So pathetic! Tapi begitulah. Aku tidak membenci orang yang bercinta. Tapi aku tidak suka dengan kisah tragis yang merengut para pencinta.

Ada yang mengatakan cinta tidak harus memiliki.

Tapi mengapa harus mencinta jika pada akhirnya harus menderita? Konyol ya? Aku tidak ingin berkorban demi cinta apalagi menjadi pahlawan tragedi meski namaku akan harum dikenang sepanjang masa dalam novel-novel klasik percintaan.

Aku tidak akan menjadi Romeo yang rela mati bersama demi kekasih. Aku juga tidak akan sebodoh Adam yang begitu saja mengikut kata Hawa sehingga terbuang dari surga. Aku adalah Narsikus sejati yang menghargai cinta dalam bayangan yang indah, yang sesungguhnya dan yang penuh bunga-bunga.

Seperti cinta ku pada Aphrodite. Dewi cinta Yunani kuno.